Jumat, 15 Juni 2012

Indonesian Culinaire


Masakan Indonesia merupakan pencerminan beragam budaya dan tradisi berasal dari kepulauan Nusantara yang terdiri dari sekitar 6.000 pulau dan memegang tempat penting dalam budaya nasional Indonesia secara umum dan hampir seluruh masakan Indonesia kaya dengan bumbu berasal dari rempah-rempah seperti kemiri, cabai, temu kunci, lengkuas, jahe, kencur, kunyit, kelapa dan gula aren dengan diikuti penggunaan teknik-teknik memasak menurut bahan dan tradisi-adat yang terdapat pula pengaruh melalui perdagangan yang berasal seperti dari India, Tiongkok, Timur Tengah, dan Eropa.

Pada dasarnya tidak ada satu bentuk tunggal "masakan Indonesia", tetapi lebih kepada, keanekaragaman masakan regional yang dipengaruhi secara lokal oleh Kebudayaan Indonesia serta pengaruh asing. Sebagai contoh, beras yang diolah menjadi nasi putih, ketupat atau lontong (beras yang dikukus) sebagai makanan pokok bagi mayoritas penduduk Indonesia namum untuk bagian timur lebih umum dipergunakan juga jagung, sagu, singkong, dan ubi jalar. Bentuk lanskap penyajiannya umumnya disajikan di sebagian besar makanan Indonesia berupa makanan pokok dengan lauk-pauk berupa daging, ikan atau sayur disisi piring.
Sepanjang sejarahnya, Indonesia telah terlibat dalam perdagangan dunia berkat lokasi dan sumber daya alamnya. Teknik memasak dan bahan makanan asli Indonesia berkembang dan kemudian dipengaruhi oleh seni kuliner India, Timur Tengah, China, dan akhirnya Eropa. Para pedagang Spanyol dan Portugis membawa berbagai bahan makanan dari benua Amerika jauh sebelum Belanda berhasil menguasai Indonesia. Pulau Maluku yang termahsyur sebagai "Kepulauan Rempah-rempah", juga menyumbangkan tanaman rempah asli Indonesia kepada seni kuliner dunia. Seni kuliner kawasan bagian timur Indonesia mirip dengan seni memasak Polinesia dan Melanesia.
 Masakan Sumatera, sebagai contoh, seringkali menampilkan pengaruh Timur Tengah dan India, seperti penggunaan bumbu kari pada hidangan daging dan sayurannya, sementara masakan Jawa berkembang dari teknik memasak asli nusantara. Unsur budaya masakan China dapat dicermati pada beberapa masakan Indonesia. Masakan seperti bakmi, bakso, dan lumpia telah terserap dalam seni masakan Indonesia.
Beberapa jenis hidangan asli Indonesia juga kini dapat ditemukan di beberapa negara Asia. Masakan Indonesia populer seperti sate, rendang, dan sambal juga digemari di Malaysia dan Singapura. Bahan makanan berbahan dasar dari kedelai seperti variasi tahu dan tempe, juga sangat populer. Tempe dianggap sebagai penemuan asli Jawa, adaptasi lokal dari fermentasi kedelai. Jenis lainnya dari makanan fermentasi kedelai adalah oncom, mirip dengan tempe tapi menggunakan jenis jamur yang berbeda, oncom sangat populer di Jawa Barat.
 Makanan Indonesia umumnya dimakan dengan menggunakan kombinasi alat makan sendok pada tangan kanan dan garpu pada tangan kiri, meskipun demikian di berbagai tempat (seperti Jawa Barat dan Sumatera Barat) juga lazim didapati makan langsung dengan tangan telanjang.
Di restoran atau rumah tangga tertentu lazim menggunakan tangan untuk makan, seperti restoran seafood, restoran tradisional Sunda dan Padang, atau warung tenda Pecel Lele dan Ayam Goreng khas Jawa Timur. Tempat seperti ini biasanya juga menyajikan kobokan, semangkuk air kran dengan irisan jeruk nipis agar memberikan aroma segar. Semangkuk air ini janganlah diminum; hanya digunakan untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan dengan menggunakan tangan telanjang.


Menggunakan sumpit untuk makan lazim ditemui di restoran yang menyajikan masakan China yang telah teradaptasi kedalam masakan Indonesia seperti bakmie atau mie ayam dengan pangsit, mie goreng, dan kwetiau goreng (mi pipih goreng, mirip char kway teow).

Senin, 12 Maret 2012

Kain Tenun

Setiap suku/etnis memiliki bahasa sendiri dengan lebih dari 100 dialek, memiliki adat, budaya dan kesenian sendiri-sendiri. Hal ini yang mempengaruhi sekaligus menerangkan dan menggambarkan mengapa ada begitu banyak corak hias/ motif tenunan pada kain tradisional di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Setiap suku mempunyai ragam hias tenunan yang khas yang menampilkan tokoh-tokoh mitos, binatang, tumbuh-tumbuhan dan juga pengungkapan abstraknya yang dijiwai oleh penghayatan yang mendalam akan kekuatan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

SEKILAS TENTANG KAIN TENUN
Tenunan yang dikembangkan oleh setiap suku/ etnis di Nusa Tenggara Timur merupakan seni kerajinan tangan turun-temurun yang diajarkan kepada anak cucu demi kelestarian seni tenun tersebut. Motif tenunan yang dipakai seseorang akan dikenal atau sebagai ciri khas dari suku atau pulau mana orang itu berasal, setiap orang akan senang dan bangga mengenakan tenunan asal sukunya.

Pada suku atau daerah tertentu, corak/motif binatang atau orang-orang lebih banyak ditonjolkan seperti Sumba Timur dengan corak motif kuda, rusa, udang, naga, singa, orang-orangan, pohon tengkorak dan lain-lain, sedangkan Timor Tengah Selatan banyak menonjolkan corak motif burung, cecak, buaya dan motif kaif. Bagi daerah-daerah lain corak motif bunga-bunga atau daun-daun lebih ditonjolkan sedangkan corak motif binatang hanya sebagai pemanisnya saja.

Kain tenun atau tekstil tradisional dari Nusa Tenggara Timur secara adat dan budaya memiliki banyak fungsi seperti :

1). Sebagai busana sehari-hari untuk melindungi dan menutupi tubuh.
2). Sebagai busana yang dipakai dalam tari-tarian pada pesta/upacara adat.
3). Sebagai alat penghargaan dan pemberian perkawinan (mas kawin)
4). Sebagai alat penghargaan dan pemberian dalam acara kematian.
5). Fungsi hukum adat sbg denda adat utk mengembalikan keseimbangan sosial yang terganggu.
6). Dari segi ekonomi sebagai alat tukar.
7). Sebagai prestise dalam strata sosial masyarakat.
8). Sebagai mitos, lambang suku yang diagungkan karena menurut corak/ desain tertentu 
 Seseorang yang sedang menenun
     Motif Tenun
akan melindungi mereka dari gangguan alam, bencana, roh jahat dan lain-lain.
9). Sebagai alat penghargaan kepada tamu yang datang (natoni)

Dalam masyarakat tradisional Nusa Tenggara Timur tenunan sebagai harta milik keluarga yang bernilai tinggi karena kerajinan tangan ini sulit dibuat oleh karena dalam proses pembuatannya/ penuangan motif tenunan hanya berdasarkan imajinasi penenun sehingga dari segi ekonomi memiliki harga yang cukup mahal. Tenunan sangat bernilai dipandang dari nilai simbolis yang terkandung didalamnya, termasuk arti dari ragam hias yang ada karena ragam hias tertentu yang terdapat pada tenunan memiliki nilai spiritual dan mistik menurut adat.

Pada mulanya tenunan dibuat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai busana penutup dan pelindung tubuh, kemudian berkembang untuk kebutuhan adat (pesta, upacara, tarian, perkawinan, kematian dll), hingga sekarang merupakan bahan busana resmi dan modern yang didesain sesuai perkembangan mode, juga untuk memenuhi permintaan/ kebutuhan konsumen.

Dalam perkembangannya, kerajinan tenun merupakan salah satu sumber pendapatan (UP2K) masyarakat Nusa Tenggara Timur terutama masyarakat di pedesaan. Pada umumnya wanita di pedesaan menggunakan waktu luangnya untuk menenun dalam upaya meningkatkan pendapatan keluarganya dan kebutuhan busananya.

Peragaan busana pada kain tenun dan motif tenun

 





Jika dilihat dari proses produksi atau cara mengerjakannya maka tenunan yang ada di Nusa Tenggara Timur dapat dibagi menjadi tiga jenis, yakni :
 
1. Tenun Ikat ; disebut tenun ikat karena pembentukan motifnya melalui proses pengikatan benang. Berbeda dengan daerah lain di Indonesia, untuk menghasilkan motif pada kain maka benang pakannya yang diikat, sedangkan tenun ikat di Nusa Tenggara Timur, untuk menghasilkan motif maka benang yang diikat adalah benang Lungsi.

2. Tenun Buna ; istilah daerah setempat (Timor Tengah Utara) "tenunan buna" yang maksudnya menenun untuk membuat corak atau ragam hias/motif pada kain mempergunakan benang yang terlebih dahulu telah diwarnai.

3. Tenun Lotis/ Sotis atau Songket ; Disebut juga tenun Sotis atau tenun Songket, dimana proses pembuatannya mirip dengan pembuatan tenun Buna yaitu mempergunakan benang-benang yang telah diwarnai.

Dilihat dari kegunaannya, produk tenunan di Nusa Tenggara Timur terdiri dari 3 (tiga) jenis yaitu : sarung, selimut dan selendang dengan warna dasar tenunan pada umumnya warna-warna dasar gelap, seperti warna hitam, coklat, merah hati dan biru tua. Hal ini disebabkan karena masyarakat/ pengrajin dahulu selalu memakai zat warna nabati seperti tauk, mengkudu, kunyit dan tanaman lainnya dalam proses pewarnaan benang, dan warna-warna motif dominan warna putih, kuning langsat, merah mereon.

Untuk pencelupan/ pewarnaan benang, pengrajin tenun di Nusa Tenggara Timur telah menggunakan zat warna kimia yang mempunyai keunggulan sepeti : proses pengerjaannya cepat, tahan luntur, tahan sinar, dan tahan gosok, serta mempunyai warna yang banyak variasinya. Zat warna yang dipakai tersebut antara lain : naphtol, direck, belerang dan zat warna reaktif.

Namun demikian sebagian kecil pengrajin masih tetap mempergunakan zat warna nabati dalam proses pewarnaan benang sebagai konsumsi adat dan untuk ketahanan kolektif, minyak dengan zat lilin dan lain-lain untuk mendapatkan kwalitas pewarnaan dan penghematan obat zat pewarna.

Dari ketiga jenis tenunan tersebut diatas maka penyebarannya dapat dilihat sebagai berikut :

1). Tenun Ikat ; penyebarannya hampir merata disemua Kabupaten di Nusa Tenggara Timur kecuali Kabupaten Manggarai dan sebagian Kabupaten Ngada.

2). Tenun Buna ; Penyebarannya di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Belu dan yang paling banyak adalah di Kabupaten Timor Tengah Utara.

3). Tenun Lotis/ Sotis atau Songket ; terdapat di Kabupaten/ Kota Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Alor, Flores Timur, Lembata, Sikka, Ngada, Manggarai, Sumba Timur dan Sumba Barat.

Senin, 05 Maret 2012

History of Jakarta

Pre-colonial era 

The area in and around modern Jakarta was part of the fourth century Sundanese kingdom of Tarumanagara, one of the oldest Hindu kingdoms in Indonesia. Following the decline of Tarumanagara, its territories, including the Jakarta area, became part of the Kingdom of Sunda. From 7th to early 13th century port of Sunda is within the sphere of influence of Srivijaya maritime empire. According to the Chinese source, Chu-fan-chi, written circa 1200, Chou Ju-kua reported in the early 13th century Srivijaya still ruled Sumatra, the Malay peninsula, and western Java (Sunda). The source reports the port of Sunda as strategic and thriving, pepper from Sunda being among the best in quality. The people worked in agriculture and their houses were built on wooden piles. The harbour area became known as Sunda Kelapa and by the fourteenth century, it was a major trading port for Sunda kingdom. The first European fleet, four Portuguese ships from Malacca, arrived in 1513 when the Portuguese were looking for a route for spices. The Kingdom of Sunda made an alliance treaty with Portugal by allowing the Portuguese to build a port in 1522 in order to defend against the rising power of the Sultanate of Demak from central Java. In 1527, Fatahillah, a Javanese general from Demak attacked and conquered Sunda Kelapa, driving out the Portuguese. Sunda Kelapa was renamed Jayakarta, and became a fiefdom of the Sultanate of Banten which became a major Southeast Asia trading center. The Castle of Batavia, seen from West Kali Besar by Andries Beeckman circa 1656–58 Through the relationship with Prince Jayawikarta from the Sultanate of Banten, Dutch ships arrived in Jayakarta in 1596. In 1602, the English East India Company's first voyage, commanded by Sir James Lancaster, arrived in Aceh and sailed on to Banten where they were allowed to build a trading post. This site became the center of English trade in Indonesia until 1682. Jayawikarta is thought to have made trading connections with the English merchants, rivals of the Dutch, by allowing them to build houses directly across from the Dutch buildings in 1615. 

Colonial era 

When relations between Prince Jayawikarta and the Dutch deteriorated, Jayawikarta's soldiers attacked the Dutch fortress. Prince Jayakarta's army and the English were defeated by the Dutch, in part owing to the timely arrival of Jan Pieterszoon Coen (J.P. Coen). The Dutch burned the English fort, and forced the English to retreat on their ships. The victory consolidated Dutch power and in 1619 they renamed the city "Batavia." The former Stadhuis of Batavia, the seat of Governor General of VOC. The building now serves as Jakarta History Museum, Jakarta Old Town area. Batavia c.1870 Commercial opportunities in the capital of the Dutch colony attracted Indonesian and especially Chinese immigrants. This sudden population increase created burdens on the city. Tensions grew as the colonial government tried to restrict Chinese migration through deportations. On 9 October 1740, 5,000 Chinese were massacred by the Dutch and the following year, Chinese inhabitants were moved to Glodok outside the city walls. The city began to move further south as epidemics in 1835 and 1870 encouraged more people to move far south of the port. The Koningsplein, now Merdeka Square was completed in 1818, the housing park of Menteng was started in 1913, and Kebayoran Baru was the last Dutch-built residential area. By 1930 Batavia had more than 500,000 inhabitants, including 37,067 Europeans. During World War II, the city was renamed from Batavia to "Jakarta" (short form of Jayakarta) by the Indonesian nationalists after conquering the city from the Dutch in 1942 with the help of the Japanese forces. See also: List of colonial buildings and structures in Jakarta. 

Independence era

Following World War II, Indonesian Republicans withdrew from Allied-occupied Jakarta during their fight for Indonesian independence and established their capital in Yogyakarta. In 1950, once independence was secured, Jakarta was once again made the national capital. Indonesia's founding president, Sukarno, envisaged Jakarta as a great international city, and instigated large government-funded projects with openly nationalistic and modernist architecture. Projects included a clover-leaf highway, a major boulevard (Jalan MH Thamrin-Sudirman), monuments such as The National Monument, Hotel Indonesia, a shopping centre, and a new parliament building. In October 1965, Jakarta was the site of an abortive coup attempt in which 6 top generals were killed, precipitating a violent anti-communist purge in which half-a million people were killed, including many ethnic Chinese, and the beginning of Suharto's New Order.

A monument stands where the generals' bodies were dumped. In 1966, Jakarta was declared a "special capital city district" (daerah khusus ibukota), thus gaining a status approximately equivalent to that of a state or province. Lieutenant General Ali Sadikin served as Governor from the mid-60's commencement of the "New Order" through to 1977; he rehabilitated roads and bridges, encouraged the arts, built several hospitals, and a large number of new schools. He also cleared out slum dwellers for new development projects—some for the benefit of the Suharto family—and tried to eliminate rickshaws and ban street vendors. He began control of migration to the city in order to stem the overcrowding and poverty. Foreign investment contributed to a real estate boom which changed the face of the city. Modern Jakarta. The boom ended with the 1997/98 East Asian Economic crisis putting Jakarta at the center of violence, protest, and political maneuvering. After 32 years in power, support from President Suharto began to wane. Tensions reached a peak in when four students were shot dead at Trisakti University by security forces; four days of riots and violence ensued that killed an estimated 1,200, and destroyed or damaged 6,000 buildings. Much of the rioting targeted Chinese Indonesians. Suharto resigned as president, and Jakarta has remained the focal point of democratic change in Indonesia. Jemaah Islamiah-connected bombings occurred almost annually in the city between 2000 and 2005, with another bombing in 2009.

Etymology of Jakarta

The site which nowadays is referred to as Jakarta, has been home to multiple settlements along with their respective names: Sunda Kelapa (397–1527), Jayakarta (1527–1619), Batavia (1619–1949), and Djakarta (1949–1972).  Its current name is derived from the word "Jayakarta". The origins of this word lie in the Old Javanese and thus ultimately in the Sanskrit language. "Jayakarta" translates as "victorious deed", "complete act", or "complete victory". Jakarta is nicknamed Big Durian, because the city is seen as the Indonesian equivalent of New York City (the Big Apple).

Jakarta

Jakarta ( /dʒəˈkɑrtə/), officially known as the Special Capital Territory of Jakarta (Indonesian: Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta), is the capital and largest city of Indonesia. Located on the northwest coast of Java, Jakarta is the country's economic, cultural and political centre, and with a population of over 9,000,000,[2] it is the most populous city in Indonesia and in Southeast Asia, and is the thirteenth-largest city in the world. The urban area, known as Jabodetabek, is the second largest in the world. Jakarta is listed as a global city in the 2008 Globalization and World Cities Study Group and Network (GaWC) research and has an area of 661 square kilometres (255 sq mi) Established in the fourth century, the city became an important trading port for the Kingdom of Sunda. It was the de facto capital of the Dutch East Indies (when it was known as "Batavia") and has continued as the capital of Indonesia since the country's independence was declared in 1945. The city is the seat of the ASEAN Secretariat. Jakarta is served by the Soekarno-Hatta International Airport, Halim Perdanakusuma International Airport, and Tanjung Priok Harbour; it is connected by several intercity and commuter railways, and served by several bus lines running on reserved busways.

Appeasing a God

The Tengger tribe's most important celebration, Yadnya Kasada, commenced smoothly and without incident at the increasingly active Mount Bromo in Probolinggo, East Java. Thousands of Tengger tribespeople, along with domestic and foreign tourists who had come to witness the annual fes tival, gathered on Sept. 7 for the ritual procession up the mountain. The Tengger are believed to be descendants of a 15th-cen tury princess of the declining Majapahit kingdom, Roro Anteng, and her husband Joko Seger, who fled to eastern Java's Tengger mountains. According to legend, the childless couple climbed the volcano and prayed to Bromo's god, who granted their wish for children on condition that they would sacrifice their youngest to its crater. This year's Kasada was colored by the heightened alert sta tus of Mt. Bromo, from Level 2 (Code Yellow) to Level 3 (Code Orange). With a possible eruption hanging over the festivities, the start of Kasada was delayed several hours as the Tengger people prayed to calm the sacred volcano - but without any visible effect. An eruption is taken as a sign that the god is very angry. "It is our hope that nothing untoward will occur during this Kasada," said a festival participant. And this hope was fulfilled as the ritual procession made its way across the desert plain - the Sand Sea - surround ing Bromo and up through the cloud-covered, chilly heights to its peak. There, Tengger shamans prayed as others amassed the offerings they had carried up the volcano's slopes, then released them into the gaping crater. (The Jakarta Post, Sunday, September 24, 2006, pg. 20)

Celebrating Mountaine Life

Now in its fifth year, communities living in the vicinity of five mountains in Central Java andYogyakarta gathered on Sept. 17 in Banyusidi village, Magelang, to celebrate the Five Mountains Festival. Featuring a variety of traditional and con temporary performances, the festival took place on the western slope of Mount Merbabu. The cultural festival is largely a community event akin to a country fair, and thousands of residents from Mt. Merbabu, Mt. Merapi, Mt. Andong, Mt. Sumbing and Mt.Menoreh - who also, organized the festivities - arrived to revel in and cheer on the day's activities. ( The Jakarta Post, Sunday, October 1, 2006, pg. 24)